Abdurrahman bin ‘Auf
‘Abdurrahman bin ‘Auf Al-Qurasyi Az-Zuhri adalah seorang sahabat mulia yang merupakan salah satu tokoh Islam masyhur dalam sejarah. Beliau adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin Nabi ﷺ masuk surga dan juga termasuk orang-orang yang pertama masuk Islam di fase awal dakwah Nabi ﷺ. Beliau juga terkenal berkat kekayaan dan kemahirannya dalam berdagang. Beliau merupakan orang yang dermawan dan rendah hati sehingga beliau dijuluki Al-Ghaniyyusy-Syākir ‘orang kaya yang bersyukur’. Tak hanya itu, beliau juga seorang pasukan pemberani, terhormat, dan zuhud (sampai beliau menolak dua kali tawaran menjadi khalifah).
Nama dan kunyah
Nama lengkap beliau adalah ‘Abdurrahman bin ‘Auf bin ‘Abdu ‘Auf bin ‘Abd bin Al-Ḥarits bin bin Zuhrah bin Kilāb bin Ka‘ab bin Lu`ay. Sebelum masuk Islam, nama beliau adalah ‘Abdu ‘Amr atau ‘Abdul Ka‘bah. Ada pula yang mengatakan Abdul-Hārits. Akan tetapi, setelah ia masuk Islam, Rasulullah ﷺ memanggilnya Abdurrahman [1]
Nasab beliau bertemu dengan nasab Nabi ﷺ pada Kilāb bin Murrah. Nisbah beliau adalah Al-Qurasyi Az-Zuhri yang diambil dari kakek beliau Zuhrah bin Kilāb. Keluarga Zuhrah bin Kilab adalah para paman Nabi ﷺ dari jalur ibu. Beliau memiliki kunyah Abu Muhammad. [2]
Kelahiran dan wafat
Abdurrahman radhiyallahu ‘anhu lahir di Makkah sepuluh tahun setelah tahun gajah, yaitu sekitar tahun 581 M. Umur beliau lebih muda sepuluh tahun dari Nabi ﷺ. Beliau wafat pada tahun 32 H atau 656 M pada umur 75 tahun. [3]
Ciri fisik
Istri beliau, Sahlah binti ‘Āṣim, menceritakan bahwa ‘Abdurrahman bin ‘Auf berkulit putih, matanya besar, bulu matanya panjang, berhidung mancung, gigi taring atasnya panjang yang seringkali melukai bibirnya, rambutnya melebihi kedua telinganya, lehernya panjang, dan pundaknya lebar. [4]
Al-Waqidi juga menjelaskan bahwa Abdurrahman bin Auf memiliki badan yang tinggi, wajahnya tampan, kulitnya halus dan putih, lehernya sedikit bongkok ke depan, berkumis kemerahan, rambut dan jenggotnya tidak beruban [5] Ia memiliki sakit bintik-bintik gatal pada kulit yang membuatnya diberi keringanan oleh Nabi ﷺ untuk memakai kain sutra. [6]
Masuk Islam
‘Abdurrahman bin ‘Auf adalah sahabat yang termasuk As-Sābiqūn Al-Awwalūn, yaitu orang-orang yang pertama masuk Islam. Beliau masuk Islam dengan perantara Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu bersama dengan Az-Zubair bin ‘Awwām, ‘Utsmān bin ‘Affān, Thalḥah bin ‘Ubaidillah, dan Sa‘ad bin Abi Waqqāsh. Setelah masuk Islam, mereka menghadap Nabi ﷺ bersama Abu Bakar. Beliau pun menjelaskan Islam dan membacakan Al-Qur`an, menjelaskan berbagai kewajiban di dalam Islam dan kemulian yang Allah janjikan. Mereka pun beriman dan yakin dengan kebenaran Islam. Mereka adalah delapan orang pertama yang masuk Islam. Lalu mereka salat dan membenarkan Rasulullah ﷺ serta mengimani wahyu yang turun dari sisi Allah. [7]
Berhijrah ke Habasyah
Pada fase dakwah secara diam-diam, para As-Sābiqūn Al-Awwalūn biasa berkumpul dengan Nabi ﷺ di rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam radhiyallahu ‘anhu yang terletak di dekat Ka‘bah. Mereka menetap di sana selama sebulan dan jumlah mereka sekitar 39 orang. [8] Kemudian Rasulullah pun diperintahkan Allah Ta‘ala untuk berdakwah secara terang-terangan. Karena itu, kaum muslimin mendapat penolakan dan persekusi dari kaum musyrikin. Dalam rangka mencari perlindungan, Nabi ﷺ memerintahkan para sahabat berhijrah menuju kerajaan Aksum yang terletak di Habasyah (sekarang Ethiopia dan Eritrea). Di antara para sahabat yang ikut berangkat adalah Abdurrahman bin Auf. [9]
Berhijrah ke Madinah
Sepulangnya dari Habasyah, kaum muslimin kembali ke Makkah. Lalu, Nabi ﷺ diperintahkan Allah untuk berhijrah ke Madinah bersama para sahabatnya. Abdurrahman pun berhijrah ke Madinah. Sesampainya di sana, ia dipersaudarakan oleh Nabi ﷺ dengan Sa‘ad bin Al-Rabī‘ radhiyallahu ‘anhu. Mempersaudarakan adalah cara yang dilakukan Nabi ﷺ agar terjadi tolong menolong antara Muhajirin dan Anshār layaknya saudara kandung.[10]
Kemahirannya dalam berdagang
Setelah Nabi ﷺ mempersaudarakannya dengan Sa‘ad bin Al-Rabī‘. Sa‘ad menawarkan harta dan istrinya, sebagaimana diriwayatkan Anas bin Malik,
“Ketika Abdurrahman bin Auf tiba di Madinah, Nabi ﷺ pun mempersaudarakannya dengan Sa‘ad bin Al-Rabī‘ Al-Anshāri. Ia pun lalu menawarkan sebagian istri dan hartanya. Abdurrahman lalu berkata, ‘Semoga Allah memberi keberkahan kepada keluarga dan hartamu. Tunjukkan kepadaku pasar.’ Lalu, ia pun memperoleh keuntungan dari berjualan susu dan mentega. Selang beberapa hari, Nabi ﷺ melihatnya memakai baju yang terdapat bercak kuning bekas parfum. Nabi ﷺ bertanya, ‘Apa ini, Abdurrahman?’ Dia berkata, ‘Saya menikahi seorang wanita Anshār.’ Nabi ﷺ bertanya, ‘Apa yang kau berikan sebagai mahar?’ ‘Emas seberat batu kecil.’ Lalu, Nabi bersabda, ‘Dirikanlah walimah, walau dengan seekor kambing.’” [11]
Pada riwayat di atas, Abdurrahman bin Auf menolak secara halus tawaran saudaranya dengan mendoakannya keberkahan. Lalu, ia pun minta ditunjukkan pasar. Sebab, saat di Makkah, beliau adalah seorang pedagang handal sehingga dengan mudah ia dapat mengumpulkan harta dari berjualan. Kemahirannya dalam berdagang ditunjukkan dengan jumlah kekayaan beliau yang melimpah, seperti yang diriwayatkan Ath-Thabari rahimahullah dalam tafsirnya,
“Abdurrahman bin Auf bersedekah setengah hartanya. Jumlah hartanya saat itu adalah 80 ribu dinar. Dan ia bersedekah sebanyak 40 ribu dinar.” [12]
Jika dirupiahkan, saat ini emas sebanyak 80 ribu dinar adalah sekitar 498 triliun.
Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
***
Penulis: Faadhil Fikrian Nugroho
Artikel: Muslim.or.id
Catatan kaki:
[1] Kitāb Aṭ-Ṭabaqāt Al-Kubrā, 3: 124, karya Ibnu Sa‘īd.
[2] Al-Istī‘āb fi Ma‘rifatil-Aṣhāb, 3: 845, karya Ibnu ‘Abdil-Barr.
[3] Al-Ma‘ārif, 1: 236, karya Ibnu Qutaibah.
[4] Idem.
[5] Idem.
[6] HR. Al-Bukhari no. 2920.
[7] Al-Bidāyah wan-Nihāyah, 4: 73, cet. Dār Hijr.
[8] Kitāb As-Sīrah Al-Halbiyyah, 1: 457.
[9] Al-Bidāyah wan-Nihāyah, 4: 165, cet. Dār Hijr.
[10] Al-Mausū‘ah Al-Hadītsiyyah, dorar.net/hadith/search?q=دلني+على+السوق&st=w&xclude=&rawi%5B%5D=
[11] HR. Bukhari no. 3937.
[12] Tafsīr Ath-Thabari, 14: 385, cet. Dar At-Tarbiyyah wat-Turāts.
Sumber: https://muslim.or.id/97946-biografi-abdurrahman-bin-auf-sahabat-mulia-dan-dermawan-bag-1.html
Copyright © 2025 muslim.or.id
Abdurrahman di masa Nabi ﷺ
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu termasuk sahabat yang memeluk Islam di awal dakwah Nabi ﷺ. Oleh karena itu, beliau turut berpartisipasi dalam hampir semua peperangan bersama Nabi ﷺ, seperti perang Badar, Uhud, Fathu Makkah, dan lainnya.
Ketokohan beliau di kalangan para sahabat tidak perlu diragukan lagi. Berkat seringnya interaksi beliau dengan Nabi ﷺ dan partisipasinya dalam berbagai peperangan bersama Nabi ﷺ, beliau menjadi sahabat yang memiliki kedudukan yang tinggi. Salah seorang sahabat, Sa‘id bin Zubair radhiyallahu ‘anhu, berkata, “Kedudukan Abu Bakar, Umar, Utsman, ‘Ali, Thalhah, Az-Zubair, Sa‘ad, Abdurrahman bin ‘Auf, dan Sa‘id bin Zaid adalah berada di depan Rasulullah ﷺ saat peperangan dan bermakmum di belakang beliau saat salat.” [1]
Selain menjadi makmum di belakang Rasulullah ﷺ, Abdurrahman radhiyallahu ‘anhu juga pernah mengimami Rasulullah ﷺ saat perang Tabuk, sebagaimana dikisahkan oleh Al-Mughirah bin Syu‘bah radhiyallahu ‘anhu,
فأقْبَلْتُ معهُ حتَّى نَجِدُ النَّاسَ قدْ قَدَّمُوا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بنَ عَوْفٍ فَصَلَّى لهمْ فأدْرَكَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ إحْدَى الرَّكْعَتَيْنِ فَصَلَّى مع النَّاسِ الرَّكْعَةَ الآخِرَةَ، فَلَمَّا سَلَّمَ عبدُ الرَّحْمَنِ بنُ عَوْفٍ قامَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ يُتِمُّ صَلاتَهُ فأفْزَعَ ذلكَ المُسْلِمِينَ فأكْثَرُوا التَّسْبِيحَ فَلَمَّا قَضَى النبيُّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ صَلاتَهُ أقْبَلَ عليهم، ثُمَّ قالَ: أحْسَنْتُمْ، أوْ قالَ: قدْ أصَبْتُمْ يَغْبِطُهُمْ أنْ صَلَّوُا الصَّلاةَ لِوَقْتِها.
“Aku menemani Rasulullah sampai beliau mendatangi orang-orang yang sedang salat diimami oleh Abdurrahman bin Auf. Rasulullah ﷺ mendapati satu rakaat terakhir bersama jemaah lainnya. Ketika Abdurrahman mengucapkan salam, Rasulullah ﷺ berdiri untuk menyempurnakan salat beliau. Hal itu mengejutkan kaum muslimin. Mereka pun mengucapkan tasbih. Ketika Nabi ﷺ menyelesaikan salat, beliau menghadap mereka lalu bersabda, ‘Kalian sudah melakukan hal yang benar’ atau bersabda, ‘Kalian benar. Kalian melakukan salat pada waktu yang telah ditentukan.’ ” (HR. Muslim no. 274)
Abdurrahman bin ‘Auf juga merupakan seorang prajurit yang berani. Ketika perang Uhud berkecamuk, banyak tentara kaum muslimin yang berbalik mundur, sementara Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu tetap bertahan. Sebab itu, beliau kehilangan gigi depannya dan terluka di dua puluh titik, sebagian di antaranya terdapat di kakinya yang menyebabkannya pincang. [2]
Abdurrahman sebagai mufti dan penasihat pada masa ‘Umar
Setelah Rasulullah ﷺ wafat, Abdurrahman bin Auf menjadi salah satu sahabat yang dimintai fatwa jika terjadi suatu peristiwa atau masalah.
Fatwa ketika terjadi wabah amwas
Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah meminta saran kepada Abdurrahman radhiyallahu ‘anhu ketika terjadi wabah amwas yang terjadi di wilayah Syam (sekarang mencakup negara Suriah, Lebanon, Yordania, dan Palestina) pada tahun 18 H atau 639 M. Saat itu, Umar hendak pergi ke negeri Syam. Ketika Umar baru sampai di Sargh, sebuah desa di lembah Tabuk, beliau bertemu para pimpinan pasukan kaum muslimin, yaitu Abu Ubaidah dan beberapa sahabat lain seperti Khalid bin Walid, Syurahbil bin Hasanah, dan ‘Amr bin Al-‘Ash. Kala itu, Umar membuat kebijakan untuk membagi pasukan Syam ke beberapa wilayah dan setiap wilayah memiliki pemimpin. Ada yang ditempatkan di Yordania, Damaskus, Palestina, dan Qinnasrin.
Para pemimpin pasukan tersebut mengabarkan kepada Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa sebuah wabah telah menyebar di wilayah Syam. Lalu, Umar pun memerintahkan Ibnu Abbas untuk memanggil kaum Muhajirin yang pertama masuk Islam. Ketika mereka datang, Umar meminta pendapat kepada mereka, apakah tetap memasuki Syam atau kembali ke Madinah. Maka, Abdurrahman bin Auf pun mengabarkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
إذَا سَمِعْتُمْ به بأَرْضٍ فلا تَقْدَمُوا عليه، وإذَا وقَعَ بأَرْضٍ وأَنْتُمْ بهَا، فلا تَخْرُجُوا فِرَارًا منه
“Jika kalian mendengar di suatu daerah terjadi wabah, maka jangan datangi. Dan jika di suatu daerah terjadi wabah dalam keadaan kalian di dalamnya, maka janganlah keluar untuk menghindarinya.” (HR. Al-Bukhari no. 5730)
Lalu keesokan harinya, Umar pun kembali ke Madinah bersama para sahabat lainnya.
Fatwa ketika mengambil jizyah orang majusi
Ketika kaum muslimin melakukan ekspansi ke daerah Persia tahun 22 H, para sahabat berbeda pendapat tentang hukum mengambil harta rampasan perang (jizyah) dari orang-orang majusi. Sebagaimana diceritakan oleh ‘Amr bin Dinar, seorang tabiin, beliau berkata,
“Aku pernah duduk bersama Jabir bin Zaid dan ‘Amr bin Aus. Pada tahun 70 H, salah seorang tabiin, Bajalah bin Abidah, menceritakan kepada mereka berdua bahwa ia merupakan juru tulis Jaz’u bin Muawiyah, seorang gubernur yang ditunjuk Umar untuk daerah Ahwaz, timur Irak. Datanglah sebuah surat dari Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu setahun sebelum beliau wafat yang berisi, ‘Pisahkan setiap yang memiliki hubungan mahram dari kalangan kaum majusi.’ Umar saat itu tidak mengambil jizyah dari orang-orang majusi hingga Abdurrahman bin Auf menyatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengambil jizyah dari kaum majusi dari Hajar.” (HR. Al-Bukhari no. 3156)
Dalam riwayat lain, Umar radhiyallahu ‘anhu diriwayatkan berkata,
“Perhatikan orang-orang majusi yang engkau hadapi. Ambillah jizyah dari mereka, karena Abdurrahman bin Auf memberitahuku bahwa Rasulullah ﷺ mengambil jizyah dari majusi Hajar.” (Shahih At-Tirmidzi no. 1586, disahihkan Al-Albani)
Ketika Abdurrahman menolak menjadi khalifah
Imam Adz-Dzahabi rahimahullah menyebutkan dalam Siyar A‘lam An-Nubala bahwa salah satu amalan terbaik yang dilakukan oleh Abdurrahman bin ‘Auf adalah keengganan beliau untuk menjadi khalifah menggantikan Umar radhiyallahu ‘anhu. Sikap beliau ini adalah salah satu bentuk kehati-hatian dalam bersikap dan bentuk kezuhudan.
Kisah ini diriwayatkan seorang tabiin, ‘Amr bin Maimun, dalam hadis yang cukup panjang tentang syahidnya Umar dan kisah musyawarah enam sahabat yang ditunjuk Umar untuk menjadi kandidat khalifah yang akan menggantikan beliau. Setelah mengalami penusukan, Umar dibaringkan di kasur dengan dikelilingi keluarga dan para sahabatnya. Abdullah, putra Umar, merasa ajal ayahnya tidak akan lama lagi datang. Lantas, Abdullah menanyakan perihal kepemimpinan selanjutnya. Abdullah berkata,
“Berilah wasiat, wahai Amirul Mu`minin, jadikanlah seorang pengganti.” Beliau menjawab: “Aku tidak mendapati seorang yang lebih layak dibandingkan orang-orang yang diridai Rasulullah ﷺ setelah beliau wafat.” Kemudian beliau menyebut ‘Ali, ‘Utsman, Az-Zubair, Thalhah, Sa‘ad, dan Abdurrahman. Kemudian beliau berkata, “Biarkan Abdullah bin Umar hadir, namun ia tidak ada hak menjadi khalifah,” sebagai ucapan penghibur baginya. “Jika kekhalifahan jatuh kepada Sa‘ad, maka terimalah. Jika tidak, maka mintalah bantuan kepadanya. Sebab, aku pernah mengasingkannya (dari Kufah) bukan karena ia tak mampu atau berkhianat.”
Ketika Umar wafat, kami pun berjalan membawa jenazahnya. Lalu, Abdullah bin Umar mengucapkan salam (kepada ‘Aisyah) dan berkata, “Umar meminta izin (untuk dikuburkan di dekat Rasulullah dan Abu Bakar).” ‘Aisyah berkata, “Bawa beliau masuk.” Beliau pun dibawa masuk dan diletakkan di sana bersama dua sahabatnya. Setelah dikuburkan, orang-orang (yang direkomendasikan Umar) membuat pertemuan. Abdurrahman berkata, “Serahkan hak tiga orang dari kalian kepada tiga orang lainnya.” Az-Zubair berkata, “Aku serahkan hakku kepada ‘Ali.” Thalhah berkata, “Aku serahkan hakku kepada ‘Utsman.” Dan Sa‘ad berkata, “Aku serahkan hakku kepada Abdurrahman bin Auf.”
Abdurrahman berkata (kepada ‘Utsman dan ‘Ali), “Siapa di antara kalian yang rela untuk menyerahkan hak kandidatnya kepada yang menurut kalian lebih baik? Allah dan Islam yang akan menjadi saksinya.” Keduanya tetap diam. Abdurrahman berkata, “Akankah kalian berdua menyerahkan urusan ini padaku dan aku jadikan Allah sebagai saksi bahwa aku hanya akan memilih yang terbaik di antara kalian berdua?” Mereka berdua berkata, “Ya.”
Lalu Abdurrahman menggandeng salah satu dari mereka (yaitu ‘Ali) dan berkata, “Engkau punya hubungan kekerabatan dengan Rasulullah ﷺ dan salah seorang muslim awal, seperti yang engkau ketahui. Maka, aku memohon kepadamu demi Allah, jika aku memilihmu sebagai pemimpin, engkau akan berlaku adil. Dan jika aku memilih ‘Utsman sebagai pemimpin, engkau akan mendengarkan dan taat kepadanya.” Kemudian dia mengajak yang lain (yaitu ‘Utsman) ke sisinya dan mengatakan hal yang sama. Setelah ‘Abdurrahman memastikan kesepakatan ini, dia berkata, “Wahai ‘Utsman! Angkat tanganmu.” Maka, dia (yaitu ‘Abdurrahman) memberikan sumpah kepada ‘Utsman, dan kemudian ‘Ali memberikan sumpah setia kepadanya, dan seluruh penduduk (Madinah) memberikan sumpah setia kepadanya.” (HR. Bukhari no. 3700)
Pada riwayat di atas, Abdurrahman alih-alih mengajukan dirinya menjadi khalifah, ia justru menjadi penengah di antara keenam kandidat khalifah. Dan ketika kandidat berkurang menjadi tiga, ia menjadi penengah antara ‘Utsman dan ‘Ali dalam memilih khalifah yang baru.
Bahkan, disebutkan dalam suatu riwayat dengan sanad milik Ibnu Sa‘ad rahimahullah dalam Ath-Thabaqat Al-Kubra dari Ummu Bakr bin Al-Miswar dari ayahnya, ia berkata,
“Ketika Abdurrahman bin Auf ditunjuk sebagai anggota musyawarah, orang yang paling aku senangi untuk memimpin adalah beliau. Jika beliau menolak, maka Sa‘ad bin Abi Waqqas adalah pilihan selanjutnya.” Lalu, Amr bin Al-Ash mendatangiku dan berkata,
“Apa pendapat pamanmu? Apakah dia percaya bahwa orang lain akan diangkat ke posisi ini sementara dia tahu bahwa dia lebih baik dari mereka?” Saya menjawab, “Dia bisa melakukan apa yang dia mau.” Aku pun mendatangi Abdurrahman dan menyebutkan hal itu kepadanya. Dia bertanya, “Siapa yang memberitahumu itu?” Saya menjawab, “Saya tidak bisa memberitahumu.” Dia berkata, “Jika kamu tidak memberitahuku, aku tidak akan berbicara denganmu lagi.” Akhirnya, aku pun mengatakan, “Amr bin Al-Ash.” Abdurrahman lalu berkata, “Demi Allah, sebilah belati diletakkan di tenggorokanku dan digeser ke sisi yang lain lebih aku suka daripada hal itu.” [3]
Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad
***
Penulis: Faadhil Fikrian Nugroho
Artikel: Muslim.or.id
Catatan kaki:
[1] Fadha`il Ash-Shahabah, karya Imam Ahmad, hal. 327, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
[2] Siyar A‘lam An-Nubala, 1: 75, cet. Ar-Risalah.
[3] Ath-Thabaqat Al-Kubra, hal. 99, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
Sumber: https://muslim.or.id/99483-biografi-abdurrahman-bin-auf-sahabat-mulia-dan-dermawan-bag-2.html
Copyright © 2025 muslim.or.id
Khidmat Abdurrahman kepada keluarga Rasulullah ﷺ
Setelah Rasulullah ﷺ wafat, Abdurrahman sering membantu keluarga Rasulullah ﷺ dalam berbagai situasi. Salah satu bentuk khidmat Abdurrahman bin Auf kepada keluarga Rasulullah ﷺ adalah pengawalan beliau terhadap para istri Nabi saat melaksanakan haji.
Pada tahun 23 H, Umar bin Al-Khattab meminta Abdurrahman bin Auf menjadi pemandu haji tahun itu. Haji itu adalah haji terakhir yang dilaksanakan Umar sebelum beliau wafat. Tahun itu, Umar mengizinkan para istri Rasulullah ﷺ untuk melaksanakan haji. Mereka berhaji dengan menaiki unta yang diberi haudah, semacam pelana dengan kemah kecil di atasnya. Umar mengutus Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf sebagai pemimpin rombongan haji. Utsman berada di depan rombongan dengan kendaraannya, sedangkan Abdurrahman berada di belakang. Mereka berdua menjaga para istri Nabi ﷺ dan tidak membiarkan siapa pun mendekati mereka. Jika mereka memasuki suatu jalan, mereka turun dari unta. Utsman dan Abdurrahman berjaga di penghujung jalan agar jalan tidak dilewati oleh siapa pun selain para istri Nabi. [1]
Selain bantuan secara tenaga, Abdurrahman bin Auf juga sering memberikan bantuan finansial kepada kaum muslimin, terutama keluarga Nabi ﷺ. Karena setelah Nabi ﷺ wafat, beliau tidak meninggalkan warisan apa pun. Sebagaimana sabda beliau,
إن الأنبياء لم يورثوا ديناراً ولا درهماً، إنما ورثوا العلم، فمن أخذ به أخذ بحظ وافر
“Para Nabi tidak mewariskan dinar atau dirham. Akan tetapi, mereka mewariskan ilmu. Siapa saja yang mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Dawud no. 3641, dinilai sahih oleh Al-Albani)
Oleh karenanya, beliau menyampaikan bahwa sepeninggal beliau, akan ada orang yang sabar dan tulus membantu keluarga beliau memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebagaimana diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda kepada para istri beliau,
“إن أمرَكُنَّ ممَّا يهمُّني مِن بعدي وليس يصبِرُ عليكنَّ إلَّا الصَّابرونَ الصِّدِّيقونَ
‘Sesungguhnya keadaan kalian adalah salah satu hal yang aku khawatirkan setelah kematianku. Dan tidak ada orang yang sabar terhadap (kondisi) kalian, kecuali mereka yang benar-benar penyabar dan jujur (mencari rida Allah).’ “
ثمَّ قالت لأبي سلمةَ بنِ عبدِ الرَّحمنِ سقَى اللَّهُ أباكَ من سلسبيلِ الجنَّةِ وكان ابنُ عَوفٍ قد تصدَّقَ على أمَّهاتِ المؤمنينَ بأرضٍ بيعت بأربعينَ ألفًا وقال أبو سلَمةَ بنُ عبدِ الرَّحمنِ بنِ عَوفٍ أوصَى عبدُ الرَّحمنِ بنُ عُوفٍ بحديقةٍ لأمِّهاتِ المؤمنينَ بيعت بأربعمائةِ ألفٍ”
Lalu, Aisyah berkata kepada Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf, “Semoga Allah memberi minum ayahmu dari mata air Salsabil di surga. Abdurrahman bin Auf pernah bersedekah kepada Ummahatul Mu’minin sepetak tanah seharga 4000 dinar.” Abu Salamah berkata, “Abdurrahman bin Auf berwasiat untuk memberi Ummahatul Mu`minin sebuah kebun seharga 400 ribu dinar.” (HR. At-Tirmizi no. 3749 dan Ahmad no. 24485, hasan)
Nabi ﷺ merasa khawatir terhadap kebutuhan keluarga setelah beliau wafat. Namun, para istri beliau adalah wanita terhormat dan salehah yang mementingkan urusan akhirat dibandingkan urusan dunia. Mereka tidak meminta-minta kepada siapa pun. Meski begitu, Nabi ﷺ mengabarkan bahwa sepeninggal beliau, tidak ada orang yang sanggup bersabar untuk membantu para istri beliau, kecuali orang yang sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan bersabar untuk mengenyampingkan kepentingan pribadi untuk kebutuhan orang lain. Orang tersebut adalah Abdurrahman bin Auf. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain, dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,
سمِعْتُ رَسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يَقولُ لأزْواجِه: إنَّ الَّذي يَحْنو عَليكُنَّ بَعْدي هو الصَّادِقُ البارُّ، اللَّهمَّ اسْقِ عَبدَ الرَّحمَنِ بنَ عَوفٍ مِن سَلسَبيلِ الجنَّةِ.
“Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda kepada para istrinya, ‘Sesungguhnya orang yang berbelas kasih kepada kalian setelahku adalah As-Shadiq Al-Barr (orang yang jujur dan baik).’ Ya Allah, berilah minum Abdurrahman bin Auf dari mata air Salsabil di surga.” (Al-Mustadrak ‘ala Ash-Shahihain no. 5449, sahih)
Sifat zuhud beliau
Meskipun Abdurrahman adalah orang yang sangat kaya, ia tetap bersikap rendah hati dan sederhana. Ia khawatir bahwa banyaknya harta dapat mendatangkan musibah di akhirat. Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf meriwayatkan,
أنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بنَ عَوْفٍ رَضِيَ اللَّهُ عنْه، أُتِيَ بطَعَامٍ وكانَ صَائِمًا، فَقالَ: قُتِلَ مُصْعَبُ بنُ عُمَيْرٍ وهو خَيْرٌ مِنِّي، كُفِّنَ في بُرْدَةٍ، إنْ غُطِّيَ رَأْسُهُ، بَدَتْ رِجْلَاهُ، وإنْ غُطِّيَ رِجْلَاهُ بَدَا رَأْسُهُ – وأُرَاهُ قالَ: وقُتِلَ حَمْزَةُ وهو خَيْرٌ مِنِّي – ثُمَّ بُسِطَ لَنَا مِنَ الدُّنْيَا ما بُسِطَ – أَوْ قالَ: أُعْطِينَا مِنَ الدُّنْيَا ما أُعْطِينَا – وقدْ خَشِينَا أَنْ تَكُونَ حَسَنَاتُنَا عُجِّلَتْ لَنَا، ثُمَّ جَعَلَ يَبْكِي حتَّى تَرَكَ الطَّعَامَ.
Suatu hari, Abdurrahman bin Auf dibawakan makanan, padahal saat itu beliau sedang berpuasa. Beliau berkata, “Mus‘ab bin ‘Umair terbunuh sedangkan ia lebih baik dariku. Ia dikafani dengan kain burdah. Jika kepalanya tertutup, kedua kakinya terlihat. Jika kedua kakinya tertutup, kepalanya terbuka.” Lalu, aku (Ibrahim) juga mendengar beliau berkata, “Hamzah (bin Abdul Muttalib) terbunuh, sedangkan ia lebih baik dariku. Kemudian dunia pun terbentang seperti sekarang ini. Dan kita khawatir, (balasan) kebaikan kita disegerakan di dunia ini.” Beliau pun mulai menangis dan meninggalkan makanan tersebut. (HR. Bukhari no. 1275)
Banyak bersedekah dan ikhlas
Salah satu keistimewaan Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu adalah diberi taufik dan kelapangan untuk bersedekah. Namun, bukan hanya terkenal banyak bersedekah, beliau juga selalu mengiringinya dengan niat yang tulus dan semangat yang tinggi untuk membela Islam dan kaum Muslimin. Di antara riwayat yang menunjukkan hal itu adalah hadis yang diriwayatkan Abu Sa‘id Al-Khudri, beliau bercerita,
كانَ بيْنَ خَالِدِ بنِ الوَلِيدِ، وبيْنَ عبدِ الرَّحْمَنِ بنِ عَوْفٍ شيءٌ، فَسَبَّهُ خَالِدٌ، فَقالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ: لا تَسُبُّوا أَحَدًا مِن أَصْحَابِي، فإنَّ أَحَدَكُمْ لو أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، ما أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ، وَلَا نَصِيفَهُ.
“Suatu hari, pernah terjadi perselisihan antara Khalid bin Walid dan Abdurrahman bin ‘Auf. Lalu, Khalid pun mencelanya. Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Janganlah kalian mencela salah seorang sahabatku. Karena apabila salah seorang kalian berinfak emas sebesar gunung Uhud, itu tidak akan setara dengan seukuran satu mudd atau bahkan setengah mudd harta yang mereka infakkan.’ ” (HR. Bukhari no. 3673)
Hadis tersebut menunjukkan bahwasanya ketakwaan dan keimanan di kalangan para sahabat Nabi ﷺ bertingkat-tingkat. Hal ini terlihat dari pernyataan Nabi ﷺ yang menegaskan, “Janganlah kalian mencela sahabatku,” kepada sahabat-sahabat beliau yang lain. Ini mengindikasikan bahwa ada beberapa sahabat yang lebih utama dibandingkan yang lainnya. Dalam hal ini, Abdurrahman bin Auf termasuk ke dalam golongan sahabat yang paling utama. Sebab, bukan hanya dari segi kuantitas sedekah yang beliau keluarkan, tetapi dari segi keikhlasan niat karena Allah Ta‘ala.
Nabi ﷺ memisalkan seandainya pun Abdurrahman bin Auf tidak memiliki banyak harta dan hanya bersedekah seukuran genggaman tangan atau setengahnya, itu jauh lebih berat timbangannya dibandingkan sedekah seukuran gunung sahabat yang lainnya. Padahal, mendapat gelar sahabat Nabi ﷺ sudah merupakan suatu keutamaan, maka bagaimana lagi dengan sedekah orang-orang setelahnya dan bagaimana lagi dengan sedekah kita yang sedikit dan terkadang tidak diiringi niat yang tulus karena Allah Ta‘ala. Nas’alullah at-taufiq.
Wafatnya Abdurrahman bin Auf
Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu wafat pada tahun 32 H pada zaman kekhalifahan Utsman bin Affan pada usia 72 tahun. Beliau disalatkan oleh Utsman bin Affan. Ada pula riwayat yang mengatakan disalatkan oleh Az-Zubair bin Awwam dan dikuburkan di pemakaman Baqi‘. [2]
Semoga Allah meridainya dan memberinya rahmat kepadanya, kepada kita serta semua kaum muslimin. Amin.
Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmai‘in. Walhamdulillahi Rabbil-‘alamin.
Penulis: Faadhil Fikrian Nugroho
Artikel: Muslim.or.id
Catatan kaki:
[1] Ath-Thabaqat Al-Kubra, 3: 99, cet. Dar Al-Ilmiyyah.
[2] Mausu’ah Hayatis-Sahabah min Kutub At-Turats, hal. 2204.
Sumber: https://muslim.or.id/100507-biografi-abdurrahman-bin-auf-sahabat-mulia-dan-dermawan-bag-3.html
Copyright © 2025 muslim.or.id
