Imam Abu Hatim Ar Razi
1. Kelahiran
2. Wafat
3. Pendidikan
4. Guru-Guru
5. Murid-Murid
6. Kesabaran Abu Hatim dalam Menuntut Ilmu
7. Pujian Para Ulama kepada Abu Hatim
8. Karya-Karya
9. Referensi
Nama lengkap Muhammad bin Idris bin al-Mundzir bin Daud bin Mahran. Dia dijuluki sebagai al-Imam (pemimpin), al-Hafidz (penghafal hadiz), an-Naqid (kritikus), Syaikh al-Muhaditsin (sesepuh para pakar hadis) al-Hanzhali al-Ghathfani. Dijuluki al-Hanzhali karena pernah tinggal di Darb Hanzhalah di kota Ray (Persia).
1. KELAHIRAN
Imam Abu Hatim Ar-Razi atau yang kerap disapa dengan panggilan Abu Hatim lahir pada tahun 195 H.
2. WAFAT
Berkata Abul Husain bin al-Munadi: “Abu Hatim ar-Razi wafat pada bulan sya’ban pada tahun 277 H”. Diriwayatkan bahwa beliau hidup selama delapan puluh tiga tahun.
3. PENDIDIKAN
Imam Abu Hatim Ar-Razi berkata: “Aku menghitung panjangnya perjalananku dalam mencari hadis, lebih dari tiga ribu-mil, aku berjalan berkali-kali dari Makkah ke Madinah, dari Bahrain menuju Mesir, dari Mesir ke Ramlah, dari Ramlah ke Baitul Maqdis dan ke Thabariah, dari Thabariyah menuju Damaskus, dari Damaskus menuju Himsha, dari Himsha menuju Anthakiya, dari Anthakiya menuju Thursus, dari Thursus kembali ke Himsha untuk mengambil hadits yang masih tertinggal dari hadits Abil Yaman, setelah aku mendengar hadis tersebut maka aku keluar dari Himsha menuju ke Bisan, dari Bisan menuju Rukoh, dari Rukoh aku menyeberangi sungai Efrat menuju Baghdad, akupun keluar (darinya) sebelum keluar dari Syam melalui Daerah Washitin, Dari Washitin menuju Kuffah, semua itu aku lalui dengan berjalan kaki, dan ini adalah perjalan pertamaku dalam mencari hadis, sedangkan umurku pada waktu itu dua puluh tahun, aku berkeliling (mencari hadits) selama tujuh tahun”.
4. GURU-GURU
Abu Hatim mencari ilmu ke berbagai tempat dan guru. Berikut ini adalah daftar guru-gurunya:
1. Imam Al Hasan bin Muhammad As Shabah Azza’Farani
2. Abu Tsur Alkalbi Al Baghdadi
3. Harmalah bin Yahya bin Abdullah At Tujibi
4. Abu Ya’qub bin Yusuf bin Yahya Albuwaiti
5. Imam Abu Ibrahim Ismail bin Yahya Al Muzani
6. Rabi’ bin Sulaiman
7. Al Hafidh Ad Darimi
8. Abdullah bin Zubair bin Isa Abu Bakar Al Humaidi
9. ‘Ubaidillah bin Musa
10. Muhammad bin Abdullah al-Anshari
11. Al-Ashma’I
12. Abu Nu’aim
13. Qubaishah
14. Abu Ya’qub bin Yusuf bin Yahya Albuwaiti
15. ‘Affan
16. ‘Utsman bin al-Haitsam al-Muadzdzin
17. Abu Mashar al-Ghassani
18. Abu al-Yamaan
19. Sa’id bin Abu Mariam
20. Zuhair bin ‘Ibad
21. Yahya bin Bukair
22. Abu al-Walid
23. Adam bin Abu Iyas
24. Tsabit bin Muhammad az-Zahid
25. Abu Zaid al-Anshari an-Nahwi
26. Abdullah bin Shalih al-‘Ajli
27. Abdullah bin Shalih al-Katib
28. Abu al-Jamahir Muhammad bin ‘Utsman
29. Haudzah bin Khalifah
30. Yahya
5. MURID-MURID
Sanad keilmuan Abu Hatim diteruskan oleh para muridnya. Mereka ikut meriwayatkan pandangan dan ajarannya serta hadis darinya. Berikut ini adalah daftar murid-muridnya:
1. Ibnu Abi Hatim
2. Abu Daud
3. Abu Muhammad Abdurrahman bin Abu Hatim (Anak)
4. Yunus bin Abdul A’la
5. Muhammad bin ‘Auf ath-Tha’I
6. An-Nasa’i
7. Abu ‘Awanah al-Isfirayaini
8. Abu al-Hasan Ali bin Ibrahim al-Qaththan
9. Abu ‘Amru Ahmad bin Muhammad bin Hakim
10. Abdurrahman bin Hamdan al-Jallab
11. Abdul Mu’min bin Khalaf an-Nasfi
12. Ar-Rabi’ bin Sulaiman
13. Abu Zar’ah ar-Razi
14. Abu Zar’ah ad-Dimasyqi
15. Ibrahim al-Harbi
16. Ahmad ar-Rumadi
17. Musa bin Ishaq al-Anshari
18. Abu Bakar bin Abu Dunya
19. Abu Abdullah al-Bukhari
20. Ibnu Sha’id
21. Hajib bin Arkin
22. Muhammad bin Ibrahim al-Kanani
23. Zakarian bin Ahmad al-Balkhi
24. Al-Qadhi al-Muhamili
25. Muhammad bin Mukhlid al-‘Aththar
26. Sulaiman bin Yazid al-Fami
27. Al-Qasim bin Shafwan
28. Abu Bakar ad-Daulabi
29. Abu Hamid
6. KESABARAN ABU HATIM DALAM MENUNTUT ILMU
Beliau menceritakan tentang dirinya, beliau berkata : “Aku tinggal di Bashroh pada tahun 214 H selama delapan bulan, sebenarnya aku berniat tinggal padanya selama satu tahun, lalu habislah perbekalanku, maka akupun menjual bajuku yang aku pakai, helai demi helai. (setiap hari) aku dan temanku berkeliling mendatangi para Syekh (ulama), mendengarkan dari mereka (hadits) hingga sore hari, setelah temanku kembali ke rumahnya, akupun kembali ke rumahku dengan tangan kosong (tanpa membawa makanan), akupun minum air untuk menghilangkan rasa lapar, keesokan harinya aku berkeliling kembali bersama temanku untuk mendengarkan hadits, sedangkan aku dalam keadaan sangat lapar, (seperti biasa) dia pulang ke rumahnya dan aku pun pulang, sedangkan aku dalam keadaan lapar.
Pada keesokan harinya dia datang kepadaku di waktu pagi dan berkata: “Ayo, berangkat bersama kami mendatangi syekh, maka aku menjawab : “Badanku sangat lemah”, dia bertanya : “Apa yang membuat badanmu menjadi lemah?”, aku menjawab : “Aku tidak bisa menyembunyikan kondisiku ini kepadamu, sungguh aku belum makan sejak beberapa hari. Maka dia berkata : “aku mempunyai sisa uang satu dinar, aku akan memberimu setengah dinar dan setengahnya kau gunakan untuk membayar sewa. Setelah itu kami pergi meninggalkan kota Bashrah.
7. PUJIAN PARA ULAMA KEPADA ABU HATIM
Tidak diragukan lagi bahwa Abu Hatim ar-Razi adalah seorang ulama besar yang mengorbankan jiwa dan hartanya dalam mencari hadits, tidak heran jika banyak pujian para ulama kepadanya.
Diantara pujian ulama kepadanya adalah apa yang dikatakan oleh al-Hafidz Abdurahman bin Hirasy, dia berkata : “Abu Hatim adalah seorang yang amanah dan berpengetahuan luas (berilmu).
Abul Qosim berkata : “Abu Hatim adalah seorang imam, hafidz, yang kuat (riwayatnya). Al-Khatib berkata : “Abu Hatim adalah salah satu dari para imam, al- Hafidz, yang kuat (hafalannya).
Al-Khalil berkata : “Abu Hatim adalah orang yang mengetahui tentang perselisihan sahabat, dan fiqih Tabi’in, serta orang-orang yang setelahnya, aku mendengar kakekku dan beberapa orang selain beliau bahwa mereka mendengar Ali bin Ibrahim al-Qothani berkata : “Aku belum pernah melihat seseorang seperti Abu Hatim, maka kami berkata kepadanya : “Bukankah engkau telah melihat Ibrahim al-Harbi dan Ismail al-Qadhi, maka dia berkata : “Aku tidak melihat (mereka) lebih sempurna dari Abu Hatim, dan tidak juga lebih mulia darinya”.
8. KARYA-KARYA
1. Bayan Khatha’ Muhamad ibnu Ismai’il Al-Bukhari fit Tarikh;
2. ‘Ilalul Hadits;
3. Kitabul Jarh wat Ta’dil;
4. Taqdimatul Ma’rifah lil Jarh wat Ta’dil;
5. Ashlus Sunnah;
6. Kitab Fadla’ilu Ahlil Bait;
7. Kitabu Fawa’idur Raziyyin;
8. K itab Fawa’idul Kabir;
9. Kitab Ar-Raddu ‘alal Jahmiyah;
10. Kitabut Tafsir;
11. Tswabul A’mal;
12. Zuhduts Tsamaniyah minat Tabi’in;
13. Adabusy Syafi’i wa Manaqibuh;
14. Kitab Makkah; dan,
15. Manaqibu Ahmad.
9. REFERENSI
1. Kitab Siyar A’lâm an-Nubalâ’ Juz 13 karya Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman adz-Dzahabi, hlm. 248-263.
2. Kitab Thabaqat ‘Ulama’ al-Hadits Juz 2 karya Abdul Hadi ad-Dimasyqi ash-Shalihi, hlm. 260-262.
3. https://nahdlatululama.id/blog/2018/01/30/abu-hatim-abu-hatim-ar-razi/
________________________________________
Sumber : https://www.laduni.id/post/read/44866/biografi-abu-hatim
