• Beribadalah kamu sampai datang "Haqqul Yakin" (kematian)
Rabu, 4 Februari 2026

Al Khalil bin Ahmad Al Farahidi

Bagikan

Barang siapa yang ingin melihat seseorang yang terbuat dari emas dan perak, maka lihatlah pada Al-Khalil bin Ahmad”

Sufyan bin ‘Uyaiyah
Khalil bin Ahmad merupakan salah satu ulama yang populer dalam ilmu tata bahasa Arab, beliau merupakan pakar Gramatika Arab, Morfologi Arab, Leksikografi Arab, Fonologi Arab dan yang terpenting adalah beliau merupakan penemu Ilmu Arudh, ilmu tentang wazan-wazan syair Arab.

Nama lengkap beliau adalah Al-Khalil bin Ahmad bin ‘Amru bin Tamim Al-Farahidi Al-Azdi al-Qahthani Al-Bashri. Dengan kunyah Abu Abdirrahman.
Beliau lahir di Oman pada tahun 100 H./ 718 M, sejak kecil berimigrasi ke Bashrah, Irak dan menuntut ilmu pada pembesar ulama di sana kemudian menetap di sana hingga wafat.

Perjalanan Keilmuan
Sejak dini beliau tekun menuntut ilmu, dan berguru dari beberapa ulama besar. Guru bahasa Arabnya adalah Ibnu Abi Ishaq Al-Hadhrami kemudian Abu Amru Al-Bashri, dan Isa bin Umar Ats-Tsaqafi.
Selain ilmu bahasa Arab, beliau juga belajar Hadis bersama musthalahnya, bahkan meriwayatkan Hadis dari beberapa pakar Hadis yang masyhur, semisal Ayyub As-Sikhtiyani, Ashim bin Sulaiman Al-Ahwal, Al-‘Awwam bin Hausyab dan Ghalib Al-Qathan.

Al-Khalil merupakan ulama yang istimewa, selain punya kecerdasaan natural, Al-Khalil merupakan tipikal orang tekun dan tak mudah puas dengan apa yang didapat. Terbukti beliau tidaklah mempelajari suatu ilmu kecuali hingga sampai rinci dan dibukakan kefahaman atas apa yang belum diketahuinya.

Peran Al-Khalil dalam Berbagai Disiplin Ilmu
Al-Khalil bin Ahmad punya banyak peran dalam penyusunan teori dalam berbagai disiplin ilmu, khususnya dalam tata bahasa Arab, sastra Arab dan yang berkaitan.

Dalam ilmu Arudh misalnya, peran al-Khalil sangat sentral. Diceritakan bahwa saat pergi haji ke tanah haram, beliau memohon agar diberikan sebuah ilmu yang sama sekali belum pernah dipelajari oleh generasi sebelumnya. Tak perlu waktu lama, datanglah Ilham dari Allah setelah beliau datang dari Tanah Haram.

Saat beliau berjalan di pasar, terdengarlah suara dan nada ketukan yang khas, sehingga terbenaklah dalam pikirannya untuk memebuat Ilmu tentang barometer syair Arab atau yang akhirnya disebut Ilmu Arudh, dan pemikiran ini terus munsul sampai pulang ke rumahnya, akhirnya beliau mengambil air sumur melalui ember sehingga terdengarlah suara nada yang mencocoki pada qasidahdan terbentuklah beberapa nada khusus yang sesuai untuk jadi ilmu Arudh, ilmu yang menjadi landasan untuk mengukur syair Arab, kemudian jadilah bahar yang lima belas (dan setelah beliau wafat, Syaikh al-Akhfasy al-Awsath menambahkan dua bahar lagi, Mutaqarib dan Mutadarak) setelah itu jadilah ilmu Arudh yang kita kenal sekarang ini.

Beliau juga berperan dalam Gramatika Arab (Nahwu), Morfologi Arab (Sharraf), Leksikografi Arab (Penulisan Kamus) dan Fonologi Arab (Ilmu tentang suara dan Makharijul Huruf). semua ini tergambar dalam karya beliau Mu’jam al-Ain karya pertama yang berisi kamus

Sifat dan Perangai Beliau
Keluasan ilmu dan kejeniusan AlKhalil sudah tidak diragukan lagi. Walau begitu, ia tetap rendah hati, bahkan dikenal sebagai sosok yang tidak suka dunia sekaligus wara’..Ulama sejarah sepakat, bahwa tidak ada ahli bahasa yang lebih mulia akhlak dan jiwanya dari beliau.

Salah satu muridnya, An-Nadhr bin Syumail berkata: “Al-Khalil tinggal di sebuah gubuk di kota Bashrah, yang harganya tidak lebih dari dua fils, padahal murid-muridnya mendapatkan banyak harta dari ilmu yang mereka peroleh darinya”.

Pernyataan tersebut menunjukkan kezuhudan dan berpalingnya dari kemewahan dunia. Padahal jika beliau mau, bisa saja ia meminta setiap yang ingin berguru kepadanya untuk membayar iuran tetap. Namun dengan ketinggian dan keluasan ilmunya, beliau tidak sombong dan takjub, atau menggunakannya untuk meraih kesenangan dunia.

Disebutkan Sulaiman bin Habib, gubernur Persia dan Ahwaz di itu mendengar perihal kehidupan beliau yang sederhana, bahkan tergolong miskin, ia ingin memberinya insentif bulanan dari harta negara, supaya bisa menutupi kebutuhan hidupnya, Ia mengutus utusannya kepada AlKhalil dan mengundangnya ke istana. Namun ketika utusan gubernur tiba, ia memberikan jamuan dan mengeluarkan roti kering serta berkata: “Katakan kepada tuanmu, aku tidak bisa menerima apa yang ia berikan, selama aku bisa mendapatkan ini, sudah cukup bagiku”.

Beliau juga sosok yang rajin beribadah dan berjihad membela agama Allah, setiap dua tahun sekali dia melaksanakan Ibadah Haji, dan tahun berikutnya adalah mengikuti jihad berperang di jalan agama Allah, begitu seterusnya.

Karya al-Khalil
Beliau memiliki banyak karya ilmiyah, diantaranya: Mu’jam Al-‘Ain yang merupakan kamus pertama dalam bahasa Arab, An-Nagham, Al-‘Arudh, Asy-Syawaahid, An-Nuqath wasy-Syakl, Kitab Al-Iiqa’, Kitab Ma’anil-Huruf

Wafat
Beliau wafat di kota Bashrah Iraq, pada bulan Jumada Al-Aakhirah tahun 173 H / 789 M pada masa kekhalifahan Harun Ar-Rasyid.
Imam Adz-Dzhabi menyebutkan dalam Tarikhul-Islam tentang kisah meninggalnya beliau, diriwayatkan bahwa Al-Khalil berkata: “Aku sedang memikirkan sebuah metode, supaya AlHisab (Matematika) mudah difahami oleh orang awam”. Lalu ia masuk ke masjid sambil terus berfikir, dan tanpa disadari ia menabrak tiang yang ada di depannya, lalu ia jatuh dan wafat setelahnya. Ada riwayat lain yang menyebutkan bahwa ia menabrak tiang ketika sedang mentaqti’ syi’ir dan meninggal setelahnya.

Saat meninggal ada yang bermimpi bertemu al-Khalil, kemudian bertanya: apa yang sedang Allah lakukan terhadapmu, beliau menjawab: “Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja. Aku tak melihat sesuatu yang lebih utama dari kalimat ‘Subhanallah wal Hamdulillah wa Lailaha Illallahu wa Allahu Akbar”.

Sumber : https://sidogirimedia.com/al-khalil-bin-ahmad-al-farahidi-bapak-kamus-dan-ilmu-syair-arab/

Nama lengkapnya ialah al-Khalil bin Ahmad bin ‘Amru bin Tamim Abu ‘Abd al-Rahman al-Bashri al-Farahidi al-Nahwi(al-Yamani, 1986).Ia dilahirkan di kota Oman, tepatnyadi daerah pantai Teluk Persia, tahun 100 H.

Dalam usianya yang sangat muda, ia diboyong oleh keluarganya ke Basrah. Di sana ia dibesarkan dan mengecap pendidikan pertamanya.Al-Khalil termasuk salah seorang ulama yang memiliki garis keturunan Arab asli. Ia memiliki jalur nasab dari Farhud dari kabilah al-Azd. Meskipun ia popular dengan gelar al-Farahidi, namun sebagian sejarawan menyebutnya dengan al-Farhudi, yang diatributkan kepada Farhud (al-Farahidi, 2003).

Sejak usia dini, al-Khalil sudah mengasah kecerdasannya melalui berbagai forum-forum kajian ilmiahyang gelar oleh ulama hadis, fikih, ahli bahasa dan nahwu. Ia mencurahkan waktunya untuk belajar dari Isa bin ‘Amru dan Abu ‘Amr bin al-‘Ala’. Selain itu, ia gemar belajar ilmu-ilmu dari bangsa-bangsa non Arab, khususnya matematika. Al-Khalil memiliki persahabatan yang sangat akrab dengan Ibn al-Muqaffa’. Ia membaca semua ilmu yang diterjemahkan oleh Ibnu al-Muqaffa’, khususnya logika Aristoteles. Selain itu, ia gemar membaca hasil terjemahan orang lain, khususnya dalam seni musik yang berasal dari Yunani. Hasil pembacaan tersebut membuat ia mahir dalam seni musik (Dheef, 1968).

Terdapat berbagai pendapat tentang pandangan teologisnya.Ada yang mengatakan bahwa al-Khalil menganut paham Khariji atau ‘Ibadhi (al-ibadhiyah) atau Shufri. Adapula yang mengatakan bahwa al-Khalil menganut paham Syiah Imamiyah. Hal ini didasarkan pada informasi bahwa al-Khalil adalah sahabat karib dari Imam al-Shadiq (Khaqani, 1425 H.).

Al-Khalil termasuk orang yang tidak beruntung dari segi materi. Kesibukannya dalam menuntut ilmu dan mengembangkan kemampuan intelektualnya, menyebabkan ia tidak memiliki ambisi untuk mengejar kesenangan duniawi(al-Farahidi, 2003). Jalan hidup sederhana yang ia pilih bukan karena tidak memiliki akses untuk menjadi orang kaya. Pilihan itu lebih dipengaruhi oleh keinginannya untuk bebas dari belenggu kesenangan duniawi (Ya’qub, 2006)

Dalam sebuah riwayat disinyalir bahwa suatu hari, Gubernur Sulaiman bin Abdul Malik mengirim utusan untuk tinggal bersamanya di istana dan menjadi guru bagi putranya. Namun, ia menolak dengan argumen bahwa ia bukan sosok yang terbuai dengan harta dan kesenangan duniawi. Ketika utusan gubernur bertandang ke rumahnya, ia menjamunya dengan roti kering lalu mempersilahkan makan. Ia berkata: “saya tidak memiliki lebih dari itu. Selamasaya masih mampu memperoleh roti seperti itu, maka tidak ada kebutuhan saya untuk memenuhi ajakan Gubernur”. Mendengar sikap al-Khalil tersebut, utusan Gubernur berkata: “apa yang saya harus katakan kepada Gubernur?. Selanjutnya, al-Khalil melantunkan bait-bait syair sebagai berikut (al-Sairafi, 1995)

Tampaknya al-Khalil menyadari bahwa kesenangan duniawi sangat potensial untuk meninabobokkan seseorang dan menyebabkan hatinya lalai dari pola hidup yang produktif.

Imam Khalil bin Ahmad adalah sosok yang sangat cerdas dan senantiasa merasa haus dengan ilmu pengetahuan. Kehausan ilmiah tersebut mendorongnya berpetualang dari satu daerah ke daerah lain untuk memuaskan hasratnya tersebut. Pertama, ia berangkat menuju Bagdad untuk bertemu dengan Khalifah al-Mahdi. Kemudian ia melanjutkan perjalannya menuju Khurasan dan menemui al-Laitsbin Rafi’ (Gubernur Khurasan). Persahabatan tersebut mendorong al-Khalil untuk memberikan hadiah kepada al-Laits. Namun ia menyadari bahwa hadiah dalam bentuk materi tidak akan berarti apa-apa di sisi al-Laits. Oleh sebab itu, ia menulis kitab al-‘Ain dan menghadiahkannyakepadanyaal-Laits.Selanjutnya, ia berangkat menuju al-Ahwaz. Namun ia tidak tinggal lama di sana akibat ketidakpuasannyadengan imbalan yang diberikan oleh Sulaiman bin Habib, Gubernur Ahwaz, yang lebih sedikit dibanding dengan ilmuan lainnya(Ya’qub, 2006)

Al-Khalil menghembuskan nafasnya yang terakhir di Basrah. Mengenai tahun wafatnya,terdapat beberapa versi. Ada pendapat yang mengatakan tahun 175 H., dan adapula yang mengatakan tahun 160 H., serta ada yang berpendapat tahun 130 H. Tentang sebab kematiannya, juga dijumpai beberapa versi. Ada yang mengatakan bahwa ia berpikir untuk menciptakan cara berhitung untuk memudahkannya dalam berbagai hal. Untuk mewujudkan ide tersebut, ia masuk ke sebuah masjid dan memulai menciptakan rumus-rumus matematika. Tiba-tiba ia diserang stroke yang menyebabkan kematiaannya. Adapula yang mengatakan bahwa ia sedang menyusun rumus pemenggalan bait-bait syair (maqtha’bahr) (Ya’qub, 2006).

Murid al-Khalil yang paling populer adalah Sibawaih. Karya Sibawaih dalam ilmu bahasa Arab mencerminkan keakrabannya dengan al-Khalil. Sebagian besar informasi tentang kaidah kebahasaan, dikutip oleh Sibawaih dari al-Khalil.Selain Sibawaih, murid-murid al-Khalil antara lain:al-Ashmu’idan al-Nadhr bin Syumail. Sedangkan gurunya antara lain: Ayyub dan ‘Ashim al-Ahwal(al-Suyuthi, 1979). Ulama-ulama yang lahir di tangan al-Khalil menunjukkan kepakarannya, khususnya dalam ilmu-ilmukebahasaan

Sumber : https://rezaervani.com/2023/09/28/biografi-imam-khalil-bin-ahmad-al-farahidi/

Luas Tanah+/- 740 M2
Luas Bangunan+/- 500 M2
Status LokasiWakaf dari almarhum H.Abdul Manan
Tahun Berdiri1398H/1978M