Jasa-jasa Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه
Abu Bakar ash-Shiddiq ra. adalah sahabat yang pertama kali masuk Islam, dan selalu menyertai Rasulullah sepanjang hidupnya baik di Makkah maupun di Madinah. Tidak hanya itu, beliau adalah sahabat Rasulullah ﷺ sekaligus teman bermusyawarah dan wazirnya. Di tangannya para senior sahabat masuk memeluk Islam seperti Usman bin Affan, az-Zubair bin al-Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah. [26] Setia mendampingi Rasulullah ﷺ dalam menghadapi berbagai macam halangan dan rintangan, siap membela beliau dengan sepenuh jiwa, bahkan beliau pula yang telah membebaskan banyak budak-budak yang di siksa karena masuk Islam seperti Bilal, Amir bin Fuhairah, Ummu Ubaisy. Zinnirah, Nahdiyyah dan kedua putrinya, serta budak wanita milik Bani Muammal [27]
Beliaulah yang menemani Nabi di kala hijrah, dan turut serta dalam setiap peperangan bersama Rasulullah ﷺ seperti Badar, Uhud, Khandaq, Hudaibiyyah, Penaklukan kota Makkah, Hunain, Tabuk dan pertempuran besar lainnya.Setelah menjabat sebagai khalifah maka beliaulah yang berrugas dan bertanggung jawab terhadap seluruh negeri Islam dan wilayah kekhalifahannya sepeninggal Rasulullah ﷺ maka tercatat sejumlah reputasi beliau yang gemilang di antaranya :
1. Instruksinya agar jenazah Rasulullah ﷺ, diurus hingga dikebumikan.
2. Melanjutkan misi pasukan yang dipimpin Usamah yang sebelum-nya telah dipersiapkan Rasulullah ﷺ sebelum wafat, sebagaimana kelak akan diterangkan secara rinci.
3. Kebijakannya menyatukan persepsi sahabat
Kebijakannya menyatukan persepsi seluruh sahabat untuk memerangi kaum murtad dengan segala persiapan ke arah itu, kemudian instruksinya untuk memerangi seluruh kelompok yang murtad di wilayah masing-masing.
4. Memerintahkan untuk mengumpulkan teks Al-Qur’an
Ibnu Katsir berkata, “Pada tahun 12 H Abu Bakar ash-Shiddiq ra. memerintahkan Zaid bin Tsabit agar mengkumpulkan al-Qur’an dari berbagai tempat penulisan, baik yang ditulis di kulit-kulit, dedaunan, maupun yang dihafal dalam dada kaum muslimin. Peristiwa itu terjadi setelah para Qari’ penghafal al-Qur’an banyak yang terbunuh dalam peperangan Yamamah, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Shahih al-Bukhari [28] Imam al- Bukhari berkata [29], Bab Pengumpulan al-Qur’an kemudian dia mulai menyebutkan sanadnya hingga sampai kepada Ibnu Syihab dari Ubaid bin as- Sabbaq, bahwa Zaid bin Tsabit pernah berkata, “Abu Bakar ash-Shiddiq ra. mengirim kepadaku surat tentang orang-orang yang terbunuh diperang Yamamah, ketika aku mendatanginya, kudapati Umar bin al-Khaththab berada di sampingnya, maka Abu Bakar berkata, “Umar mendatangiku dan berkata, “Sesungguhnya banyak para Qurra’ penghafal al-Qur’an yang telah gugur dalam peperangan Yamamah. Aku takut jika para Qari’ yang masih hidüp kelak terbunuh dalam peperangan, akan mengakibatkan hilangnya sebagian besar dari ayat al-Qur’an, menurut pendapatku, engkau harus menginstruksikan agar segera mengumpulkan dan membukukan al-Qur’an.”
Aku bertanya kepada Umar, “Bagaimana aku melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rasulullah ﷺ?” Umar menjawab, “Demi Allah, ini adalah kebaikan!” Dan Umar terus menuntutku hingga Allah melapangkan dadaku untuk segera melaksanakannya, akhirnya akupun setuju dengan pendapat Umar, Zaid bin Tsabit berkata, “Kemudian Abu Bakar berkata padaku, “Engkau adalah seorang pemuda yang jenius, berakal dan penuh amanah, dan engkau telah terbiasa menulis wahyu untuk Rasulullah ﷺ, maka carilah seluruh ayat al-Qur’an yang berserakan dan kumpulkanlah.” Berkata Zaid, “Demi Allah jika mereka memerintahkan aku untuk memikul gunung tentu-lah lebih ringan bagiku daripada melaksanakan instruksi Abu Bakar agar aku mengumpulkan al-Qur’an.” Aku bertanya, “Bagaimana kalian melakukan sesuatu perbuatan yang tidak diperbuat oleh Rasulullah ﷺ. Dia berkata, “Demi Allah ini adalah suatu kebaikan!” Dan Abu Bakar terus berusaha meyakinkan aku hingga akhirnya Allah melapangkan dadaku untuk menerimanya sebagaimana Allah melapangkan dada mereka berdua Maka aku mulai mengumpulkan tulisan-tulisan al-Qur’an yang ditulis di daun-daunan, kulit maupun dari hafalan para penghafal al-Qur’an, hingga akhirnya aku menemukan akhir surat at-Taubah yang ada pada Abu Khuzaimah al-Anshari, yang tidak kudapatkan dari selainnya, yaitu ayat:
”Sesungguhmja telah datang kepndamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu.” (At-Taubah: 128). Hingga akhir surat al-Bara’ah. Kemudian al-Qur’an yang telah dikum-pulkan dan dibukukan itu disimpan oleh Abu Bakar hingga Allah mewafatkannya.
Setelah itu berpindah ke tangán Umar sewaktu hidup-nya, dan akhirnya berpindah ke tangán Hafshah binti Umar Imam al-Bukhari berkata, Ibnu Syihab berkata, Telah berkata kepadaku Kharijah bin Zaid bin Tsabit, bahwasanya dia mendengar Zaid berkata, “Aku tidak mendapatkan satu ayat dari surat al-Ahzab ketika kami menulis al-Qur’an ke dalam satu mushaf, sementara aku pernah mendengarkan Rasulullah ﷺ membacanya, akhirnya ayat tersebut kami cari dan ternyata ayat tersebut ada pada Khuzaimah bin Tsabit al-Anshari,
” Di antara orang-orang mu’ min itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah.” (Al-Ahzab: 23). Maka segera kami sisipkan ke tempatnya di dalam mushaf.
5. Pengiriman pasukan untuk menyebarkan Agama Allah
Pengiriman pasukan untuk menyebarkan Agama Allah kepada bangsa bangsa yang bertetangga dengan kaum muslimin baik kepada penduduk Persia maupun penduduk Syam, dalam rangka merealisasikan firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ “Hai orang-orang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan dari padamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa.” (At-Taubah: 123).
QADHI, SEKRETARIS DAN AMIL ZAKAT DI MASA KHALIFAH ABU BAKAR رضي الله عنه
Sebelum Abu Bakar diangkat sebagai khalifah, profesi beliau dalam mencari nafkah adalah seorang pedagang, setelah dilantik sebagai khalifah maka sebagaimana biasanya beliau berangkat ke pasar untuk berdagang, dijalan beliau bertemu dengan umar bin al-Khaththab dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah, keduanya menghampirinya dan berkata, “Profesimu sebagai pedagang kini sudah tídak sesuai lagi sejak engkau mengemban amanat yang amat besar ini.” Abu Bakar ash- Shiddiq ra. menjawab, “Jika tídak dengan berdagang seperti ini bagaimana aku dapat menghidupi anak istriku?” Keduanya menjawab, “Mari ikut kami agar kami siapkan untukmu gaji.”
Maka sejak itu Abu Bakar diberi upah setengah kambing dan dijamin baginya pakaian beserta sandang pangan, Umar berkata, Biarlah aku yang mengurusi masalah qadha (peradilan), selanjutnya Abu Ubaidah berkata, “Serahkan kepadaku urusan pajak.” Umar berkata, “Sejak aku menjabat sebagi Qadhi di peradilan, selama sebulan penuh aku duduk menganggur tídak satupun terjadi persengketaan antara dua orang.” [30]
Dan yang menjadi sekretaris dan juru tulisnya adalah Zaid bin Tsabit, Usman bin Affan atau siapa yang hadir ketika itu di sisinya. Adapun gubernur untuk wilayah Makkah adalah Itab bin Sa’id, untuk wilayah Tha’if adalah Usman bin Abi al-Ash, untuk wilayah adalah Shan’a Muhajir bin Abi Umayyah, untuk wilayah Hadramaut adalah Ziyad bin Lubaid, untuk wilayah Khaulan adalah Ya’la bin Umayyah, untuk wilayah Zubeid dan Rima’ [31] adalah Abu Musa al-Asy’ari, untuk wilayah al-Janad [32] adalah Mu’adz bin Jabal, untuk wilayah Bahrain adalah ai-Ala’ bin al-Hadrami. Beliau juga mengutus Jabir bin Abdillah al-Bajalli ke Najran, Abdullah bin Tsaur salah seorang dari Bani al-Ghauts- diutus ke daerah Jurasy [33], kemudian beliau mengutus Iyadh bin Ghanm al-Fahri ke Daumatul Jandal, wilayah Syam diserahkan kepada Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Syarahbil bin Hasanah, Yazid bin Abu Sufyan, Amru bin al-Ash, seluruhnya adalah pemimipin pasukan di bawah satu komandan yaitu Khalid bin Walid. [34]
Ketika itu Abu Bakar belum mendirikan baitul mal secara independen, melainkan hanyalah mengambil sebuah kamar kecil di rumahnya yang berada di sanuh, ketika salah seorang sahabat berkata padanya, “Tidakkah engkau memerlukan penjaga Baitul mal tersebut?” Dia menjawab, “Tidak, sebab kamar tersebut memiliki gembok yang terkunci. Namun ketika beliau pindah ke rumahnya yang di samping masjid Nabawi maka beliau harus memindahkan baitul mal tersebut ke sana. Ketika Abu Bakar wafat, maka Umar membuat para penjaga baitul mal secara khusus, ketika baitul mal di buka tenyata mereka tidak menemukan apapun. [35]
USIA DAN WAFAT ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ رضي الله عنه
Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata [36], “Abu Bakar ash-Shiddiq ra. wafat pada hari senin di malam hari, ada yang mengatakan bahwa Abu Bakar wafat setelah Maghrib (malam selasa) dan dikebumikan pada malam itu juga 8 hari sebelum berakhirnya bulan Jumadil Akhir tahun 13 H, setelah beliau mengalami sakit selama 15 hari. Pada waktu itu Umar menggantikan posisinya sebagai imam kaum muslimin dalam shalat.
Ketika sakit beliau menuliskan wasiatnya agar tampuk pemerintahan kelak diberikan kepada Umar bin al- Khaththab, dan yang menjadi juru tulis waktu itu adalah Usman bin Affan, Setelah surat selesai segera dibacakan kepada segenap kaum muslimin, dan mereka menerimanya dengan segala kepatuhan dan ketundukan. [37] Masa kekhalifahannya berjalan selama 2 tahun 3 bulan 38, dan beliau wafat pada usia 63 tahun [39] persis dengan usia Nabi, akhirnya Allah me-ngumpulkan jasad mereka dalam satu tanah, sebagaimana Allah mengum-pulkan mereka dalam kehidupan. Sebelum wafat beliau telah mewasiatkan agar seperlima dari hartanya disedekahkan sembari berkata,”Aku akan menyedekahkan hartaku sejumlah yang Allah ambil dari harta fai’ kaum muslimin. [40]
Ketika beliau dalam kondisi sekarat, ada yang berkata kepadanya, “Maukah anda jika kami carikan seorang dokter?” Maka spontan dia menjawab, “Dia telah melihatku (maksudnya Allah) dan Dia berkata, “Sesungguh-nya Aku akan berbuat apa-apa yang Kukehendaki. [41]
Disebutkan bahwa sebab beliau jatuh sakit dan wafat bahwa beliau dan al- Harits seorang dokter yang masyhur- pernah memakan khazirah [42] yang dihadiahkan kepada Abu Bakar, maka setelah memakan daging itu berkata al-Harits, “Angkatlah tangán anda wahai Khalifah Rasulullah ﷺ, demi Allah sesungguhnya daging ini telah beracun, maka Abu Bakar segera mengangkat tangannya, sejak itu keduanya selalu merasa sakit hingga akhirnya keduanya wafat satu tahun kemudian. [43] Versi lain ada yang mengatakan bahwa sebab wafatnya beliau karena mandi pada waktu musim dingin yang bersengatan, yang membuat beliau demam lalu wafat karena itu.
Dalam keadaan sakit beliau melantunkan sebuah bait syair,
Engkau selalu memberikan kabar duka cita atas kematian kekasihmu
Hingga kini engkaulah yang akan merasakan kematian itu
Banyak orang memiliiki cita-cita
Namun kematian jualah yang menghadang segalanya. [44]
Di antara wasiat beliau kepada ‘Aisyah ra, Aku tidak meninggalkan harta untuk kalian kecuali hewan yang sedang hamil, serta budak yang selalu membantu kita untuk membuat pedang kaum muslimin, karena itu jika aku wafat tolong berikan seluruhnya kepada Umar. Ketika ‘Aisyah ra. menunaikan wasiat itu kepada Umar maka Umar berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Bakar, sesungguhnya dia telah membuat kesulitan (untuk mengikutinya) bagi orang-orang yang menjadi khalifah setelahnya. [45]
Ketika Salman al-Farisi datang menjenguknya, Salman berkata, “Wahai Khalifah Rasulullah ﷺ berikan aku wasiat, sebab kulihat engkau tidak akan dapat lagi melakukannya setelah hari ini.” Maka Abu Bakar menjawab, Wahai Salman, pasti akan terjadi penaklukan (negeri-negeri kafir) tapi aku tidak pernah mengetahui apa-apa yang engkau peroleh dari bagianmu kecuali apa-apa yang dapat engkau makan dan engkau masukkan ke dalam perutmu, atau apa-apa yang dapat kau kenakan di atas punggungmu (pakainmu), dan ketahuilah sesungguhnya barangsiapa yang mengerjakan shalat lima waktu, maka dia telah berada dalam lindungan Allah pada pagi hari maupun sore harinya, dan jangan sampai engkau membunuh seorang ahli dzimmah, maka kelak Allah pasti akan menuntutmu di hari kiamat dan mencampakkan dirimu dalam keadaan tersungkur dengan wajahmu ke dalam neraka. [46]
Ibn Sa’ad menyebutkan dengan sanadnya dari al-Qashim bin Muhammad dia berkata, “Abu Bakar dikafankan dalam dua kain, kain yang berwarna putih, dan satu lagi berwarna lain, beliau berpesan, ‘Sesungguhnya orang yang masih hidup lebih membutuhkan kain dari orang yang telah mati, sebab kain kafan hanyalah menutup apa-apa yang akan keluar dari hidung maupun mulutnya.” [47]
Beliau dimakamkan bersama Rasulullah ﷺ dalam kamar (Aisyah) dan beliau dishalatkan oleh Umar bin al-Khaththab Beliaulah yang pertama kali diangkat oleh Rasulullah ﷺ sebagai amir.
Referensi :
[26] Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyyah 1/317
[27] Ibid 1/393
[28] Al-Bidayah wan Nihayah, 6/353
[29] Ibnu Hajar, Fathul Baril/ÍO Kitab Fadhail al-Qur’an. Abu Khuzaimah al-Ansari yang disebutkan dalam haditst pertama,Bukan Khuzaimah bin Tsabit al-Ansari, sebagaimana yang telah diterangkan oleh al-Hafizh Ibnu IbnuHajar dalam syarahnya pada hadits yang pertama 9/15
[30] Ibnu Sa’ad, ath-Thabaqat al-Kubra 3/184 dengan sanad yang para perawinya tsiqah namun sanadnya mursal
[31] Al-Haflzh berkata dalam al-Fath 13/129, “Sanadnya kuat.”
[32] Rima’, ñama sebuah lembah di Yaman di samping Wadi Zubid dan di bawah Rima’ terdapat telaga kecil yang disebut dengan Ghassan. (Mu’jam al-Buldan, 3/68).
[33] A-janad, yaitu salah satu dari istana Yaman dan tempat berdiamnya penguasa. {Mu’jamal-Buldan2/169). Jjrasy, yaitu salah satu dari istana Yaman dari arah Makkah, dan konon wilayah ini merupakan kota besar dalam kekuasaan jenguasa yang lúas. {Mu’jam al-Buldan, 2/126).
[34] Lmat Tarikh ath-Thabari 3/426 dan setelahnya
[35] Thabaqat Ibnu Sa’ad, 3/203
[36] Al-Bidayah wan Nihayah, 7/18.
[37] Thabaqat Ibnu Sa’ad, 3/202, Tarikh ath-Thabari, 3/420
[38] Lihat Thabaqat Ibnu Sa’ad, 3/202, Tarikh ath-Thabari3/420 dan dia menambahkan masa kekhalifahannya lebih sepuluh hari, adapun Ibnu Katsir menghapuskan hitungan malam hari, dan Ibnu Sa’ad ada juga menyebutkan pendapat lainnya.
[39] Ibnu Sa’ad, dan ini dlsepakati 3/202.
[40] Thabaqat Ibnu Sa’ad, 3/194
[41] Ibid, 3/198
[42] Yaitu daging yang telah lewat satu hari, yang dicampur dengan tepung setelah dlmasak . (Al-Usan, 4ITÍ7).
[43] szazat al-Kubra, 3/198. 193.
[44] ‘ Ibid 3/193, dengan sanad la ba’sa (tidak mengapa). Ketika sakaratul maut pertanda ajal yang akan menjemputnya datang, putrinya ‘ Aisyah -Ummul mukminin-membacakan sebuah bait syair, Sesungguhnya tidak guna kekayaan bagi seseorang Ketika dada terasa sempit dan susah bernafas Mendengar itu beliau memandang kepada ‘Aisyah ra. seolah-olah marah dan berkata, “Jangan katakan demikian wahai Ummul mukminin, namun katakan, “ Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya. itulah yang kamu selalu lari dari padanya.” (Qaf: 19).
[45] ‘ Ibid 3/192, dengan sanad shahih
[46] ‘ Ibid 3/193, dengan sanad la ba’sa (tidak mengapa).
[47] Ibid 3/204, dengan sanad yang shahih. Dan dia menyebutkan riwayat lain seputar masalah ini dalam pelaksanaan ibadah haji pertama dalam Islam yaitu pada tahun 9 H, dan pada tahun berikutnya Rasulullah ﷺ baru melaksanakan ibadah haji Wada’.
Ketika beliau diangkat menjadi khalifah, beliau memerintahkan Umar untuk menjadi amir haji pada tahun 11 H, dan tahun berikutnya barulah beliau berangkat haji. [48]
[48] ‘ Ibid 3/177
Sumber : https://hbis.wordpress.com/2010/01/17/biografi-abu-bakar-ra-dan-pengumpulan-al-quran/