• Beribadalah kamu sampai datang "Haqqul Yakin" (kematian)
Kamis, 3 April 2025

Perang Tha’if

Bagikan

Daftar Isi : (Klik Menu menuju Isinya & kembali  ke Menu)

  1. Pembagian Harta Rampasan di Ji’ranah
  2. Orang-orang Anshar Meradang
  3. Kedatangan Utusan Hawazin
  4. Melaksanakan Umrah lalu Kembali ke Madinah

Perang ini pada hakikatnya merupakan perpanjangan dan kelanjutan dari Perang Hunain. Sebab mayoritas pelarian Hawazin dan Tsaqif masuk ke Tha’if bersama komandan tertinggi mereka, Malik bin Auf An-Nashri. Mereka bertahan di sana. Karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beranjak ke Tha’if seusai dari Hunain dan setelah rampung mengumpulkan harta rampasan di Ji’ranah.
Khalid bin Walid berangkat lebih dahulu ke sana bersama 1000 prajurit, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyusul ke sana, dengan melewati Nakhlah Al-Yamaniyah, Qamul Manazil hingga tiba di Liyyah. Di sana ada benteng bilik Malik bin Auf. Beliau memerintahkan untuk menghancurkan benteng tersebut. Beliau melanjutkan perjalanan hingga tiba di Tha’ if. Belian berhenti tak jauh dari benteng mereka dan berkubu di sana. Kemudian beliau memerintahkan untuk mengepung benteng tersebut.

Pengepungan ini berjalan cukup lama. Dalam riwayat Muslim dari Anas, tempo pengepungan ini selama 40 hari. Tetapi menurut para penulis sejarah tidak selama itu. Ada yang mengatakan 20 hari, yang lain mengatakan 18 hari, 15 hari dan 10 lebih.

Selama pengepungan itu terjadi serangan anak panah dan lontaran peluru peluru batu. Pada awal pengepangan, orang-orang Muslim mendapatkan serangan anak panah secara gencar. Cukup banyak orang Muslim yang cedera dan ada 12 orang yang meninggal dunia. Hal ini memaksa mereka mengalihkan kubu ke tempat yang lebih tinggi, tepatnya di tempat didirikannya masjid Tha’if saat ini. Mereka pun bermarkas di sana.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasang manjaniq ke arah penduduk Tha’if di dalam benteng dan melontarkan peluru-peluru batu, hingga dapat merontokkan sebagian dinding benteng dan beberapa prajurit Muslim masuk ke dalam benteng lewat dinding yang sudah terlubangi itu. Mereka masuk ke arah pagar benteng untuk membakarnya. Tetapi musuh melontarkan besi yang sudah dibakar panas dan juga serangan anak panah ke arah orang-orang Muslim yang masuk ke dalam benteng hingga dapat membunuh sebagian di antara mereka.

Sebagai bagian dari siasat perang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menebangi pohon anggur dan membakarnya. Karena cukup banyak pohon pohon anggur yang ditebangi, pihak musuh dari pihak Tha’if memohon atas nama Allah dan hubungan kekerabatan, agar penebangan itu dihentikan. Beliau mengabulkan permohonan mereka. Lalu beliau berseru, “Siapa pun yang mau turun dari benteng dan datang ke sini, maka dia bebas.”

Ada 20 orang yang turun dari benteng dan mendatangi pasukan Muslimin. Di antara mereka ada yang dijuluki Abu Bakrah. Pekerjaannya memanjat dinding benteng Tha’if lalu menjulurkan kerekan bandar untuk mengambil air minum. Maka beliau menjulukinya Abu Bakrah (tukang kerek). Beliau membebaskannya dan setiap orang di antara mereka diseralikan kepada seorang Muslim untuk diberi makanan.

Setelah pengepungan berjalan sekian lama dan benteng tidak mudah ditaklukkan begitu saja, sementara musuh bisa bertahan di dalam benteng selama setahun, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta pendapat Naufal bin Mu’awiyyah Ad-Dili. Dia berkata, “Mereka adalah rubah di dalam lubang. Jika engkau tetap mengepung mereka, maka mereka pun akan bertahan. Tapi jika engkau tinggalkan mereka, maka mereka pun tidak akan berbahaya.”

Pada sant itu beliau bermaksud hendak meninggalkan benteng dan pergi. Beliau memerintahkan Umar bin Al-Khaththab untuk mengumumkan kepada orang-orang, “Insya Allah besok kita akan pergi.”
Tetapi mereka ada yang keberatan dengan rencana ini. Mereka berkata, “Masa kita pergi begitu saja dan tidak menaklukarmya?”
“Kalau begitu serbulah mereka!” sabda beliau.
Tetapi justru serbuan yang mereka lakukan mengakibatkan banyak orang yang terluka, karena benteng musuh memang cukup kuat. Maka beliau bersabda, “Insya Allah besok kita akan pergi.”
Perintah ini justru membuat mereka merasa senang. Karena itu mereka pergi. Melihat hal ini beliau hanya bisa tersenyum. Setelah mereka beranjak pergi, beliau bersabda, “Ucapkanlah, `Kami pasrah, bertaubat, menyembah dan kepada Rabb kami memuji.”
Ada yang berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah bagi kemalangan Tsaqif.” Maka beliau bersabda, “Ya Allah, berikanlah petunjuk bagi penduduk Tsaqif dan limpahilah mereka.”

1. Pembagian Harta Rampasan di Ji’ranah

Setelah menghentikan pengepungan terhadap Tha’if, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali ke Ji’ranah dan menetap disana selama 10 hari. Selama itu beliau belum membagi harta rampasan dan menangguhkannya, dengan harapan ada utusan Hawazin yang datang kepada beliau untuk memohon amnesti, agar mereka bisa mendapatkan kembali barang-barang milik mereka. Karena tidak ada yang datang, beliu mulai membagi harta rampasan, agar para pemimpin kabilah dan pemuka Makkah tidak banyak bicara lagi. Orang-orang yang baru masuk Islam dan hatinya masih lemah diberi bagian lebih dahulu dengan jumlah yang relatif lebih besar.

Abu Sufyan bin Harb diberi 40 uqiyah dan 100 ekor onta. Itu pun dia masih meminta bagian untuk anaknya, dengan berkata, “Bagaimana dengan anakku Yazid?”
Maka beliau memberi Yazid sejumlah itu pula. Abu Sufyan bertanya lagi, “Bagaimana dengan anakku Mu’awiyah?” Maka beliau memberikannya sejumlah itu pula.
Beliau memberikan 100 ekor onta kepada Hakim bin Hizam. Tetapi dia masih meminta 100 ekor onta lagi, dan permintaannya ini pun dipenuhi. Shafwan bin Umayyah diberi 100 ekor onta, kemudian 100 ekor lagi dan ditambah 100 ekor onta lagi. Begitulah yang disebutkan dalam Asy-Syifa’. Al-Harits bin Al-Harits bin Kaladah diberi 100 ekor onta, begitu pula beberapa orang lainnya yang termasuk dalam jajaran pemuka Quraisy dan kabilah lainnya. Selain mereka ada yang diberi 50 ekor onta, 4 ekor onta, hingga ada kabar yang tersebar bahwa Muhammad tidak akan takut miskin meskipun berapa pun yang beliau berikan. Karena itu orang-orang Arab berbondong bondong mengerumuni beliau untuk meminta harta, hingga beliau terdesak hingga sampai ke sebuah pohon dan mantel beliau terlepas. Beliau bersabda, “Wahai orang-orang, kembalikan mantelku. Demi yang diriku ada di tanganNya, andaikan aku memiliki semua tanaman di Tihamah, tentu aku akan memberikannya kepada kalian, hingga kalian tidak menyebut aku sebagai orang yang kikir, penakut, dan pendusta.”

Kemudian beliau berdiri di samping onta milik beliau, memegangi punuknya sambil memegang sebiji gandum. Beliau mengangkat biji gandum itu seraya bersabda, “Wahai semua orang, demi Allah, aku tidak lagi menyisakan harta rampasan kalian, termasuk pula sebiji gandum ini kecuali seperlimanya, dan seperlimanya itu pun sudah diserahkan kepada kalian.”

Setelah memberikm bagian kepada orang-orang yang baru saja masuk Islam dan hatinya masih lemah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Zaid bin Tsabit agar mendatangkan sisa harta rampasan dan mengumpulkan semua orang. Masing masing orang mendapat bagian 4 ekor onta dan 40 domba. Jika dia seorang penunggang kuda, maka dia mendapat bagian 12 ekor onta dan 120 ekor domba.
Pembagian ini didasarkan pada pertimbangan yang sangat matang dan bijaksana. Sebab di dunia ini banyak orang yang bisa dihela kepada kebenaran perutnya dan bukan dari akalnya, sebagaimana binatang yang bisa digiring karena ada seikat dedaunan yang disodorkan ke dekat mulutnya, hingga dia masuk ke kandangnya dengan aman. Begitu pula manusiayang membutuhkan variasi bujukan untuk menyusupkan iman.

2. Orang-orang Anshar Meradang

Pada awal mulanya siasat beliau ini belum dipahami sebagian orang, sehingga muncul komentar macam-macam yang pada intinya memprotes kebijakan beliau ini. Orang-orang Anshar termsuk mereka yang tidak bisa menerima kebijakan beliau ini, karena mereka semua tidak menerima bagian dari harta rampasan Hunain. Padahal justru merekalah yang lebih banyak dilibatkan saat terjadi krisis, bertempur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga dapat membalik keadam pasukan Muslimin, yang tadinya kocar-kacir menjadi menang secara telak. Tetapi justru mereka tidak mendapatkan apa-apa.

Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Abu Sa’ida Al-Khudri, dia berkata, “Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi-bagikan bagian kepada orang-orang Quraisy dan kabilah-kabilah Arab, sementara orang-orang Anshar tidak mendapatkan pembagian itu sedikit pun, maka menyebar suara kasak kusuk di antara mereka hingga ada yang berkata, “Demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bertemu kaumnya sendiri!”
Lalu Sa’ad bin Ubadah masuk ke tempat beliau seraya berkata, “Wahai Rasulullah, di dalam diri orang-orang Anshar itu ada perasaan yang mengganjal terhadap diri engkau, karena apa yang engkau lakukan dalam membagi harta rampasan itu. Engkau membagi-bagikamiya kepada kaum engkan sendiri dan engkau memberikan bagian yang amat besar kepada berbagai kabilah Arab, sementara orang-orang Anshar tidak mendapatkan apa pun.”
“Lalu maukah engkau menempatkan dirimu wahai Sa’d?” Tanya beliau. “Wahai Rasulullah, aku tidak mempunyai pilihan lain melainkan harus bersama kaumku,” jawab Sa’d.
“Kalau begitu kumpulkan kaummu di kandang ini,” sabda beliau.
Sa’d bin Ubadah mengumpulkan semua orang Anshar di kandang yang dimaksudkan. Ada beberapa Muhajirin yang ikut datang, naman mereka tidak diperkenankan masuk dan hanya orang-orang Anshar saja yang boleh masuk. Ada kelompok Muhajirin lainnya yang datang, tetapi mereka ditolak. Setelah semua orang Anshar berkumpul, Sa’d bin Ubadah mengabarkannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau mendatangi mereka. Setelah memuji Allah dan mengagungkan¬Nya, beliau bersabda, “Wahai semua orang Aashar, ada suara kasak-kusuk yang sempat kudengar dari kalian dan di dalam diri kalian ada perasaan yang mengganjal terhadap aku. Bukankan aku dulu datang, sementara kalian dalam kesesatan lalu Allah memberikan petunjuk kepada kalian? Bukankah kalian dulu miskin lalu Allah membuat kalian kaya, juga menyatukm hati kalian?”
Mereka menjawab, “Begitulah Allah dan Rasul-Nya lebih murah hati dan lebih banyak karunianya.”
“Apakah kalian tidak ingin memenuhi seruanku wahai semua orang Anshar?” Tanya beliau.
Mereka berganti bertanya, “Dengan apa kami harus memenuhi semruanmu wahai Rasulullah? Milik Allah dan Rasul-Nyalah anugerah dan karunia.”
Beliau bersabda, “Demi Allah, kalau kalian mau, sementara kalian bisa membenarkan dan dibenarkan, maka kalian bisa berkata, `Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, namun justru kami membenarkan engkau, dalam keadaan lemah dan kamilah yang justru menolong engkau, dalam keadaan terusir dan justru kamilah yang memberikan tempat, dalam keadaan papa dan justru kamilah yang menampung engkau’. Apakah di dalam hati kalian masih membersit harta keduniaan, yang dengan keduniaan itu aku hendak mengambil hati segolongan orang agar masuk Islam, sedangkan terhadap keislaman kalian aku sudah percaya? Wahai semua orang Aashar, apakah kalian tidak berkenan di hati jika orang lain pergi membawa domba dan onta, sedangkan kalian kembali bersama Rasul Allah ke tempat tinggal kalian? Demi yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, kalau bukan karena hijrah, tentu aku termasuk orang-orang Anshar. Jika orang-orang menempuh suatu jalan di celah gunung, dan orang orang Anshar menempuh suatu celah gunung yang lain, tentu aku memilih celah yang ditempuh orang-orang Anshar. Ya Allah, rahmatilah orang-orang Anshar, anak-anak orang Anshar dan cucu orang-orang Anshar.”
Mereka pun menangis sesenggukan hingga jenggot mereka menjadi basah oleh air mata. Mereka berkata, “Karni ridha terhadap Rasulullah dalam masalah pembagian dan bagian.” Setelah itu beliau kembali lagi ke tempat semula dan mereka pun bubar.

3. Kedatangan Utusan Hawazin

Setelah seluruh harta rampasan selesai dibagi, beberapa orang utusan Hawazin datang untuk masuk Islam. Mereka ada 14 orang yang dipimpin Zuhair bin Shurad. Di antara mereka ada pula paman beliau dari susuan, Abu Burqan. Mereka memohon agar beliau mengembalikan orang-orang Hawazin yang tertawan dan juga harta benda milik mereka. Mereka menguatkan harapan mereka ini dengan perkataan yang sangat menyentuh perasaan.
Beliau bersabda, “Kalian sudah melihat apa yang ada di sini. Bagaimanapun juga, aku paling suka perkataan yang jujur. Mana yang lebih kalian cintai, wanita dan anak-anak kalian ataukah harta benda kalian?”
Mereka menjawab, “Kami tidak bisa menimbang seperti itu.”
Beliau bersabda, “Jika kalian selesai shalat zhuhur nanti, berdirilah dan katakan, `Karni memohon kepada orang-orang Mukmin lewat diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan kami memohon kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat diri
orang-orang Mukmin, agar beliau berkenan mengembalikan para tawanan kami.

Maka seusai shalat zhuhur, mereka berdiri dan berkata seperti itu. Beliau bersabda, “Yang menjadi bagianku dan bagian Bani Abdul Muthalib menjadi milik kalian kembali. Maka aku akan memohon kepada orang-orang yang lain untuk kepentingan kalian.”
Orang-orang Muhajirin dan Anshar berkata, “Milik kami adalah milik Rasulullah.”
Al-Aqra’ bin Habis berkata, “Aku dan Bani Yamim tidak akan menyerahkannya.”
Uyainah bin Hishn bekata, “Aku dan Bani Fazarah tidak akan menyerahkannya.”
Al-Abbas bin Mirdas berkata, “Aku dan Bani Sulaim tidak akan menyerahkannya.”
Tetapi Bani Sulaim menyahut, “Milik kami adalah milik Rasulullah.”
“Kalian membuatku tidak berdaya,” jawab Al-Abbas bin Mirdas.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Sesungguhnya mereka telah datang sebagai orang orang yang menyatakan untuk masuk Islam. Aku juga sudah menangguhkan para tawanan mereka serta memberikan pilihan, namun mereka tidak ingin melepaskan anak-anak dan wanita mereka. Maka barang siapa di sisinya ada salah seorang di antara mereka, lalu dia berkenan mengembalikannya, maka lebih baik dia melakukmnya dan barang siapa yang menahannya, maka hendaklah dia mengembalikannya kepada mereka dan dia akan mendapat tebusan seperti yang ditentukan Allah dari masing-masing bagian yang diperolehnya.”
Orang-orang berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memanjakan kita.”
Beliau bersabda, “Karni tidak tahu siapa yang ridha dan siapa yang tidak ridha dengan keputusan ini di antara kalian. Karena itu kembalilah kalian lalu laporkan kepada kami apa yang kalian ketahui tentang urusan kalian.”
Akhinya mereka mengembalikan seluruh wanita dan anak-anak yang menjadi tawanan yang sebehunnya sudah dibagi-bagikan. Tak seorang pun yang menahan para tawanan tersebut kecuali Uyainah bin Hishn. Dia menolak mengembalikan seorang tawanan wanita yang sudah tua renta. Tetapi kemudian dia punt mengembalikamiya. Beliau memberikan kain model Qibthiyah kepada tawanan itu.

4. Melaksanakan Umrah lalu Kembali ke Madinah

Seusai membagi harta rampasan di Ji’ranah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertalbiyah dari tempat itu dengan niat melaksanakan umrah. Maka beliau pergi menuju Makkah untuk melaksanakan umrah. Setelah selesai melaksanakan umrah beliau, kembali lagi ke Madinah dan menunjuk Attab bin Usaid sebagai wakil beliau di Makkah.

Keberangkatan beliau ke Madinah ini enam hari sebelum habisnya bulan Dzul Hijjah 8 H.
Muhammad Al-Ghazali berkata, “Demi Allah, betapa panjang waktu yang membentang antara saat-saat kemenangan yang dianugerahkan Allah ini dan permulaan kedatangan ke negeri ini (Madinah) semenjak delapan tahun sebelumnya

Sebelum itu beliau datang sebagai orang usiran untuk mencari keamanan. Beliau datang sebagai orang asing dan juga kesepian mencari tempat berlindung. Penduduknya sangat menghormati kedatangan beliau, melindungi dan mengulurkan pertolongan, mengikuti petunjuk yang diturunkan kepada beliau, rela menghadang serangan pihak lain. Saat delapan tahun yang lalu beliau masuk ke sana dalam keadaan takut dan berhijrah, kini mereka menerima kedatangan beliau sekali lagi sekalipun Makkah sudah dapat ditaklukkan, kesombongan dan kejahiliyahan sudah tunduk kepada beliau, untuk memuliakan dengan Islam dan segala kesalahan mereka yang lampau diampuni.

Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orcmg yang sabar.” (Yusuf: 90)

Sumber : Kitab Sirah Nabawiyah – Syaikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury

Luas Tanah+/- 740 M2
Luas Bangunan+/- 500 M2
Status LokasiWakaf dari almarhum H.Abdul Manan
Tahun Berdiri1398H/1978M